Senin, Mei 23, 2011

Sepi...


Hening…
Suasana membius rasa pekat & sepi Aku terbias antara sadar & kenangan. Tersenyum untuk menangis, lalu tersenyum lagi (Kulakukan dalam kesendirian) Hingga kau datang menyentakkan sadarku. Menatapku penuh hikmat dan mendekat Lalu seperti biasa senyummu mengembang Lalu seperti biasa bibirmu mengecup keningku.

Kitapun bicara setengah berbisik mesra Bercanda dalam buaian kehangatan hati Sesekali kau sentuh pipiku lewat lembut jemarimu Membuatku mengelak malu dan hanya tertunduk. Tak terasa batas waktu memudar kembali aku tercekam dikesendirian Aku menjerit pilu! Aku berteriak memanggilmu! Namun ternyata itu hanya lamunanku.

Buat Selembar Hati


Kupahat gumpalan hati. Mengukiri nama kita berdua Pada jarak rindu semusim. Dimana tapak ragu terasah tajam. Mendungpun menggantung. Semburat kelabu menyelubungi hati Dimana dirimu saat ini? Sedang apa? Semoga pahatanku memaknai cintamu. Semoga ukiram nama kita merasuki hatimu Mesti beribu jarak terlampaui Kuharap ragu membias rasa Seperti kuharap rasamu atasku.

Luruh Hujan


Rintik hujan meluruh pelahan. Membentuk butiran-butiran lembut Yang menitik resah di kaca jendela Dan membentuk lelehan bak airmata.

Semalaman aku menghayati makna Dalam renungan. memandangi kaca jendela Sebentuk larapun menoreh hati. Menghayutkan fikiranku arungi ilusi semu. Keberadaanmu selalu kupertanyakan Meski ku sadar tanpa alasan Namun toh selalu menjadi ingatan

Maafkan atas pertanyaanku. Dan malam yang merepih Dan rintik yang meluruh Dan hati yang sunyi Dan raga yang dahaga…

Menanti Pagi Esok Hari


Bermula lagi di pagi hari perasaan gamang tak tertata, melayang lepas bersama embun basah. sementara harapan-harapan pembebasan masih malu tampakkan batang hidungnya dari sini. aku berusaha belum terjaga dari mimipi-mimpi kehidupan khayal, dari buaian-buaian kenikmatan semu dari iming-iming kecintaan palsu dari penantian-penantian yang tak usai dipaksa.

Aku berdiri di persimpangan bersama rasa gundah yang terus membusuk di ruang sempit dinding-dinding redup pertautan malam dan siang. pancaran mentari pagi kali ini tetap sama membekukan otak. masa mudaku lagi selalu mengiringi lantunan irama tua yang tak bosan-bosan mengerubuti aku terbawa ke masa hilang menatap tetesan air mata. bunga hijau, kuning, coklat muda, tua bahkan setengah nyawa dibuat layaknya kere-kere mata setan yang melirik ke tempat pembuangan raga. mengincar kepala, dengkul, juga tempurungnya disini, aku masih berperang dengan pagi mencoba melindas segala resah dunia. menawar tawar bala bantuan membuka buka wacana tawa meski harus terbantahkan lagi oleh pagi kerna anggapmu pandanganku marabahaya aku masih terkurung kandang pagi. kepercayaan membunuhku kompromi memenggalku solusi memerangkapku juga alasan masih menjebakku pagi.

oh pagi...
mungkinkah aku tak sanggup menyambutmu kembali esok hari setelah kau biarkan malam menyelimuti lelapku bagai kepompong mati yang terus tebarkan pesona kupu-kupu.

Renungan...


Terlalu banyak yang bicara luka. meski diantara kita tak sepenuhnya faham. pernah kah kita berfikir sejenak saja paling tidak mendengar dari orang lain, mengenai apa arti luka itu sendiri.

Kita terlalu angkuh dan bodoh sehingga menganggap luka kita adalah luka dunia, padahal luka itu tak ada setitik pun dari debu yang berterbangan. lalu apa yang kita harap dari rintih keluh serta koar koar mengatasnamakan luka? untuk sekadar mencari dukungan?

Cerita-cerita sendu sudah cukup lama dikumandangkan tapi yang dicari bukan penyelesaian yang ada malah mencari siapa yang harus dikambinghitamkan pada akhirnya kita harus tersadar dengan sendirinya bahwa orang terakhir yang harus disalahkan adalah diri sendiri.