Sabtu, Mei 28, 2011

Resahku Dan Resahmu

Saat sinar sinar rembulan menyinari malamku dan di saat angin malam menembus tubuhku. rasa gelisah pun menyelimuti tubuh ini yang sedang dalam penantian panjang. dan aku berkata kepada angin malam tolong sampaikan salam rinduku padanya karena aku sangat mencintainya dan aku sangat membutuhkannya di sampingku. ==================================== Resahku Terhenti ketika telingaku mendengar jangan pernah dengar rasa takutmu ketika matamu mulai mengantuk jangan pernah melihatnya lihat aku saja karena jika kau melihatnya rasaku terhenti sejenak aku takut suatu saat kau mulai mendengarnya melepasku dan menggenggamnya mengertilah aku takut takut tidak pernah menatap matamu lagi. Aku takut hatiku terhenti dan kau mulai menatapnya lurus ====================================

Senin, Mei 23, 2011

Untuk Kekasih...


Kekasih.. Malam ini kembali kurajut bayangmu. Menyerupai keinginan dan pengharapan. Agar setiamu tetap memancari cinta kita.

Seperti juga aku yang setia menantimu. Kekasih.. Jauhku mungkin meragukan hatiku. Namun kubias lewat secercah senyum Agar tak terpekik dalam hampa. Dan aku tetap menyambangi hatimu.

Kekasih.. Bila malam menjurang pekat Aku mencoba melabuhi bayangmu Lewat derapan hayal disertai asa. Semoga berbalas dikesunyian ini. Kekasih.. Aku bertahan demi menjaga hati, Aku bernaung demi memulas mimpi. Aku menyintaimu. Dan kekasih.. Bila batas cintamu membias Aku mencoba meluruhkan hati Agar tak terbersit keterpaksaan. Sebab cinta saling menjaga Sebab cinta tak bisa dipaksa.

Malam Dalam Rindu


Malam melabuhkan rasa rindu. Malam melarutkan kata ungkapan. Malam menyandarkan raga resah. Malam menyelimuti jiwa diam.

Andai kau tahu (Tapi kau tak pernah tahu)
Sehingga aku hanya bisa menggeliat lara. Terpaku pada putaran waktu. Terbius pada hembusan bayangmu.

Malam dalam rindu. Paduan nimat menyusuri dingin alam. Dalam alunan senandung gelisah lumati asa dalam putus asa.
Andai kau tahu (?) Bahwa kerinduan ini semakin dalam. Bahwa kerinduan ini semakin jelas.
Bahwa… Aku benar-benar merindumu.

Pada Satu Bintang


Saat rembulan mencerahkan cahaya. Dalam bentuk bulatnya yang begitu anggun. Nampak satu bintang hanya mengerdip sesaat. Dan jarakpun membatasi rengkuhan.

Entah mengapa diantara bintang yang bertabur Sang rembulan hanya menitiskan hati pada satu asa. Pada satu bintang diantara bintang lainnya. Pada satu bintang nun jauh di sana. Ketika mendung menyapu cahaya malam Ada kidung luka menyeruak sang rembulan. Ingin rasa menggapai sang bintang Lewat cahaya yang semakin meredup Dan hingga pada batas selubung pekat..

Rembulanpun tersembunyi di balik kelabu malam. Rembulanpun menangis lewat gerimis meluruh. Rembulanpun kehilangan satu bintang..

Sepotong Rindu


Sepotong rindu yang membelenggu Berupaya menggenggam rasa lewat asa lalu pada dentuman waktu Mencoba menguras hampa penuh isak. Selembar hati yang jauh Berupaya menggapai pasti lewat rindu Lalu pada hembusan angin Mencoba menitipkan salam penuh cinta. Duhai rindu.. Duhai hati.. Mengapa harus mengarungi kepenjaraan? Mengapa tak berusaha mendekat? Mengapa?

Pada-Mu Ya Allah


Ketika hati melabuh sepi. Sejenak dalam diam, kuhembuskan nafas. Menghayati, betapa hidup penuh makna. Menikmati, betapa Tuhan penuh kasih sayang.

Dan sepi yang melabuh Membentuk gundukan resah bertabur hampa. Sementara regukan nikmat yang Kau beri, Tuhan Melarutkan resah dan hampa, berganti takjub. Terima kasih Karena suasana hati berangsur benderang Saat bersujud dalam keiklasan PadaMu jua kuberharap Dalam hidup, juga matiku…

Di Batas Kesempatan


Ku takar hari demi menjaga cinta kita. Ku ikat hati demi mengerat  janji kita. Sebatas asa yang kupunya Pada belaian yang lama mereguk kisah. Tak jua kau tahu betapa dalam rasaku Kau tetap membuat hatiku meragu. Tak ingin kumerubah dirimu Karena kukenal dirimu apa adanya Namun selalu keraguan hadir Mengurut langkah perjalanan kisah kita. Duhai… Aku kehilangan kendali Kamu tetap diam dalam lambaian tanganku Dan sia-sia aku meneriaki namamu. Bila masih saja merengkuh diam Mungkinkah kisah kita tetap melangkah? Mungkinkah kasih kita tetap terjalin? Atau kita berhenti untuk merenung.. Semoga kau mengerti Betapa aku mengharap cintamu

Sepi...


Hening…
Suasana membius rasa pekat & sepi Aku terbias antara sadar & kenangan. Tersenyum untuk menangis, lalu tersenyum lagi (Kulakukan dalam kesendirian) Hingga kau datang menyentakkan sadarku. Menatapku penuh hikmat dan mendekat Lalu seperti biasa senyummu mengembang Lalu seperti biasa bibirmu mengecup keningku.

Kitapun bicara setengah berbisik mesra Bercanda dalam buaian kehangatan hati Sesekali kau sentuh pipiku lewat lembut jemarimu Membuatku mengelak malu dan hanya tertunduk. Tak terasa batas waktu memudar kembali aku tercekam dikesendirian Aku menjerit pilu! Aku berteriak memanggilmu! Namun ternyata itu hanya lamunanku.

Buat Selembar Hati


Kupahat gumpalan hati. Mengukiri nama kita berdua Pada jarak rindu semusim. Dimana tapak ragu terasah tajam. Mendungpun menggantung. Semburat kelabu menyelubungi hati Dimana dirimu saat ini? Sedang apa? Semoga pahatanku memaknai cintamu. Semoga ukiram nama kita merasuki hatimu Mesti beribu jarak terlampaui Kuharap ragu membias rasa Seperti kuharap rasamu atasku.

Luruh Hujan


Rintik hujan meluruh pelahan. Membentuk butiran-butiran lembut Yang menitik resah di kaca jendela Dan membentuk lelehan bak airmata.

Semalaman aku menghayati makna Dalam renungan. memandangi kaca jendela Sebentuk larapun menoreh hati. Menghayutkan fikiranku arungi ilusi semu. Keberadaanmu selalu kupertanyakan Meski ku sadar tanpa alasan Namun toh selalu menjadi ingatan

Maafkan atas pertanyaanku. Dan malam yang merepih Dan rintik yang meluruh Dan hati yang sunyi Dan raga yang dahaga…

Menanti Pagi Esok Hari


Bermula lagi di pagi hari perasaan gamang tak tertata, melayang lepas bersama embun basah. sementara harapan-harapan pembebasan masih malu tampakkan batang hidungnya dari sini. aku berusaha belum terjaga dari mimipi-mimpi kehidupan khayal, dari buaian-buaian kenikmatan semu dari iming-iming kecintaan palsu dari penantian-penantian yang tak usai dipaksa.

Aku berdiri di persimpangan bersama rasa gundah yang terus membusuk di ruang sempit dinding-dinding redup pertautan malam dan siang. pancaran mentari pagi kali ini tetap sama membekukan otak. masa mudaku lagi selalu mengiringi lantunan irama tua yang tak bosan-bosan mengerubuti aku terbawa ke masa hilang menatap tetesan air mata. bunga hijau, kuning, coklat muda, tua bahkan setengah nyawa dibuat layaknya kere-kere mata setan yang melirik ke tempat pembuangan raga. mengincar kepala, dengkul, juga tempurungnya disini, aku masih berperang dengan pagi mencoba melindas segala resah dunia. menawar tawar bala bantuan membuka buka wacana tawa meski harus terbantahkan lagi oleh pagi kerna anggapmu pandanganku marabahaya aku masih terkurung kandang pagi. kepercayaan membunuhku kompromi memenggalku solusi memerangkapku juga alasan masih menjebakku pagi.

oh pagi...
mungkinkah aku tak sanggup menyambutmu kembali esok hari setelah kau biarkan malam menyelimuti lelapku bagai kepompong mati yang terus tebarkan pesona kupu-kupu.

Renungan...


Terlalu banyak yang bicara luka. meski diantara kita tak sepenuhnya faham. pernah kah kita berfikir sejenak saja paling tidak mendengar dari orang lain, mengenai apa arti luka itu sendiri.

Kita terlalu angkuh dan bodoh sehingga menganggap luka kita adalah luka dunia, padahal luka itu tak ada setitik pun dari debu yang berterbangan. lalu apa yang kita harap dari rintih keluh serta koar koar mengatasnamakan luka? untuk sekadar mencari dukungan?

Cerita-cerita sendu sudah cukup lama dikumandangkan tapi yang dicari bukan penyelesaian yang ada malah mencari siapa yang harus dikambinghitamkan pada akhirnya kita harus tersadar dengan sendirinya bahwa orang terakhir yang harus disalahkan adalah diri sendiri.

Sabtu, Mei 21, 2011

Buat Kau Yang Terindah


Sebuah ungkapan cinta Ku ukir di hati gersang ini. Ku jaga. Ku simpan Dan ku abadikan bersama jiwaku. Kepada kau yang terindah Dengarlah dan tenunglah bicaraku Kan ku pertahankan Cintaku buatmu Kan ku abadikan Kenangan mesra yang kau bina bersamaku.

Andai tiada lagi bicara cinta dari hatimu Aku redha Aku pasrah Namun Setitis air mataku yang mengalir karanamu Bisa menjadi saksi ketulusan cintaku Bisa menjadi saksi kejujuran hatiku.

Kepada kau yang terindah Lihatlah lirikan mataku Yang sentiasa mencari bayangmu Pandanglah tarian bicaraku Yang seringkali mengungkapkan kata rindu Dan mengertilah hembusan nafas dari jiwaku Yang membawa seribu tafsir cinta buatmu.

Kepada kau yang terindah Mengertilah Aku masih merindu Aku kian menunggu Merindu saat indah tika bersamamu Menunggu kau kembali ke pangkuanku.

Kepada kau yang terindah Aku cinta padamu

Ingin Mengulang Waktu


Andai waktu itu mampu aku takluk Akan aku abadi di sisimu Akan aku setia pada rinduku Akan ku seru namamu Menggetar cinta Membunuh kebencian. Andai waktu itu mampu aku takluk Ingin sekali aku dakap bayangmu Ingin sekali aku genggam tanganmu Biar kau tahu Tidak rela aku kehilangan Walau hanya sekujur bayangmu Andai waktu itu mampu aku takluk Ingin ku beritakan pada seluruh alam Kesaktian cinta Keagungan kasih Dan selautan rindu ini Hanya untukmu Andai waktu itu mampu aku takluk Akan aku sujud di kakimu Memohon jutaan ampun dan maaf Hanya kerana mencintaimu Hanya kerana merinduimu

Arti Kesetiaan


Maafkan aku jika semalaman engkau berfikir dalam prasangka tentang kesetiaanku. apakah janji tidak bertulis itu engkau sangkal atau sekadar menguji sabarku?

Maafkan aku jika semalaman engkau tidak gembira tentang hubungan kita barangkali engkau terbayang kisah silam yang pahit akan berulang atau keyakinan dirimu kian longgar?

Maafkan aku jika semalaman engkau menjadi resah gelisah tentang ragumu dalam kesetiaan yang bertahan begitu lama. barangkali sesekali hatimu diusik cemburu yang lalu kemudian engkau tersentak sendiri!

Hari ini ungkapan lebih hebat engkau harus mengerti dunia kehidupan yang memungkinkan segalanya bukan sekadar hati harus dipelihara tetapi keyakinan diri mengajar pengalaman kita bersatu hati dan menghargai kesetiaan..

Titisan Malam


"Ya Allah Berdetik jantungku menyebut nama-Mu. Tenang dan damai dalam kalbuku Sedingin sinar embun pagiMU. Indahnya tak dapat ku gambarkan lagi Lebih tenang dari pantai yang sunyi. Lebih damai dari taman yang wangi. Ingin ku hilang diri. Ingin ku kembali Walau belum sampai waktunya. Biarlah ketika ini. Saat jari ku dapat menari. Saat jiwaku dapat merasai. Sungguh rindu bagai pencinta sejati.

Titisan layu membasahi Bukan pipi... bukan diri Tetapi hati yang rindu pada Illahi. Cinta itu takkan hadir. Bahagia itu takkan sempurna pada diriku yang runsing dan dukacita yang lemah dan tak berusaha, yang penakut dan bakhil, yang berhutang dan di tekan orang lain.

Cinta... ..bahagia Ingin ku miliki Cita-cita... ..impian Ingin ku penuhi Mengajak ku berjuang... .berbakti Meninggalkan kesenangan duniawi Mengajakku bersendiri Meninggalkan fitnah menghancurkan diri. Akan tiba waktu itu Pabila aku mengenali-Mu aku mendampingi kalimah-Mu Pabila hatiku Mencintai-Mu dan Rasul-Mu Lebih dari tiap sesuatu .

'Ya Allah kami mohon cinta-MU dan cinta orang yang mencintai-Mu serta semua amalan yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu' 'Ya Allah lindungilah kami dari kerunsingan dan dukacita,lindungilah kami dari kelemahan dan kemalasan, lindungilah kami dari penakut,Perkenankanlah Ya Allah doa kami dan terimalah amalan kami,Sesunguhnya Engkau Maha Pemberi..