Bermula lagi di pagi hari perasaan gamang tak tertata, melayang lepas bersama embun basah. sementara harapan-harapan pembebasan masih malu tampakkan batang hidungnya dari sini. aku berusaha belum terjaga dari mimipi-mimpi kehidupan khayal, dari buaian-buaian kenikmatan semu dari iming-iming kecintaan palsu dari penantian-penantian yang tak usai dipaksa.
Aku berdiri di persimpangan bersama rasa gundah yang terus membusuk di ruang sempit dinding-dinding redup pertautan malam dan siang. pancaran mentari pagi kali ini tetap sama membekukan otak. masa mudaku lagi selalu mengiringi lantunan irama tua yang tak bosan-bosan mengerubuti aku terbawa ke masa hilang menatap tetesan air mata. bunga hijau, kuning, coklat muda, tua bahkan setengah nyawa dibuat layaknya kere-kere mata setan yang melirik ke tempat pembuangan raga. mengincar kepala, dengkul, juga tempurungnya disini, aku masih berperang dengan pagi mencoba melindas segala resah dunia. menawar tawar bala bantuan membuka buka wacana tawa meski harus terbantahkan lagi oleh pagi kerna anggapmu pandanganku marabahaya aku masih terkurung kandang pagi. kepercayaan membunuhku kompromi memenggalku solusi memerangkapku juga alasan masih menjebakku pagi.
oh pagi...
mungkinkah aku tak sanggup menyambutmu kembali esok hari setelah kau biarkan malam menyelimuti lelapku bagai kepompong mati yang terus tebarkan pesona kupu-kupu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuliskah wahai pena? Apa yang telah kau fahami... Jujurlah wahai pena? Karna kejujuranmu menjadikan aku mengerti salah dan khilafku